Misteri Hasrat Berkuasa

dorongan genetik untuk akses sumber daya utama

Misteri Hasrat Berkuasa
I

Pernahkah kita memperhatikan hal kecil namun aneh di sekitar kita? Misalnya, saat teman tongkrongan kita tiba-tiba diangkat menjadi admin grup WhatsApp, atau ditunjuk menjadi ketua panitia acara kecil-kecilan. Tiba-tiba nada bicaranya berubah. Ia menjadi lebih sering mengatur, lebih kaku, dan sedikit lebih dominan. Saya yakin kita semua pernah melihat fenomena ini, atau mungkin, tanpa sadar kita sendiri yang mengalaminya. Kenapa kekuasaan, sekecil apa pun skalanya, punya efek yang begitu magis pada perilaku manusia? Apakah kekuasaan itu semacam kutukan yang membuat orang menjadi jahat? Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang jauh lebih purba bersembunyi di balik jas rapi, gelar jabatan, atau status sosial yang kita kejar mati-matian hari ini?

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat pola ini dari kacamata sejarah dan alam. Dari Julius Caesar di Romawi Kuno hingga para kaisar di dinasti Tiongkok, jalan ceritanya selalu mirip. Selalu ada intrik, pengkhianatan, dan ambisi tak berujung untuk naik ke puncak takhta. Namun, teman-teman, pola ini ternyata tidak eksklusif milik umat manusia. Kalau kita mengamati perilaku kerabat dekat kita di alam liar, seperti simpanse, kita akan disuguhi drama politik yang sama persis. Para primatolog sering mencatat bagaimana simpanse jantan alpha akan mengatur strategi, membangun aliansi, bahkan saling sikat hanya untuk menduduki puncak hierarki kelompoknya. Fakta ini membawa kita pada satu realitas yang cukup menggelitik. Hasrat berkuasa bukanlah produk dari kapitalisme modern atau sekadar moral yang rusak. Dorongan ini sudah berakar jauh sebelum manusia menemukan roda, api, atau bahasa tulis.

III

Lalu muncul sebuah pertanyaan besar yang mungkin mengganjal di pikiran kita. Jika ambisi kekuasaan sering kali membawa kehancuran, keserakahan, dan peperangan, kenapa alam semesta justru mempertahankan sifat ini di dalam diri kita? Mengapa evolusi tidak menyingkirkan gen "haus kekuasaan" ini jutaan tahun yang lalu dan menggantinya dengan gen "damai dan berbagi"? Apakah alam sebenarnya sengaja merancang kita untuk terus bersaing dan saling mendominasi tanpa henti? Di titik ini, kita mungkin mulai menyadari satu hal. Ada sebuah misteri besar tentang kelangsungan hidup spesies kita yang jarang dibicarakan di pelajaran budi pekerti. Sebuah rahasia sains yang membuat kita terpaksa mengevaluasi ulang: apakah dorongan untuk berkuasa itu sebuah pilihan sadar, atau justru sebuah instruksi bawaan lahir?

IV

Inilah fakta biologisnya, teman-teman. Di mata evolusi, kekuasaan bukanlah tentang ego atau kejahatan, melainkan kunci utama menuju satu hal yang paling absolut: akses terhadap sumber daya utama. Ratusan ribu tahun yang lalu di padang sabana yang keras, individu yang berada di puncak hierarki memiliki keistimewaan luar biasa. Mereka mendapat akses pertama terhadap makanan berkalori tinggi, tempat berlindung yang paling aman dari predator, dan yang paling menentukan, peluang reproduksi terbaik. Jadi, ketika seseorang merasa ketagihan dengan kekuasaan, otak mereka sebenarnya sedang dibanjiri oleh hormon dopamin dan testosteron. Otak purba kita merespons kekuasaan layaknya kita menemukan sumber air di tengah gurun. Sistem saraf kita berteriak, "Pertahankan posisi ini, dan kamu tidak akan kelaparan atau punah!" Kekuasaan pada dasarnya adalah jaminan kelangsungan hidup genetik. Harus kita akui, kita yang hidup hari ini adalah keturunan dari leluhur yang menang dalam perebutan sumber daya tersebut, bukan dari mereka yang pasrah lalu mati muda.

V

Mengetahui realitas hard science ini mungkin membuat kita merasa sedikit tidak nyaman. Rasanya seperti kita hanyalah robot biologis yang disetir oleh DNA kuno yang egois. Tapi, mari kita tarik napas sejenak. Pemahaman sains ini justru seharusnya menumbuhkan rasa empati dan kesadaran kritis yang mendalam di dalam diri kita. Mengerti asal-usul genetik dari hasrat berkuasa bukan berarti kita membenarkan perilaku korup atau penindasan. Sebaliknya, ini adalah tameng kita. Untungnya, evolusi juga membekali manusia dengan prefrontal cortex, bagian otak depan yang bertugas untuk berpikir rasional, menimbang moral, dan mengerem impuls purba tersebut. Kita memang mewarisi dorongan biologis untuk menguasai sumber daya, tapi kita juga spesies satu-satunya yang punya kebebasan akal untuk memilih bagaimana membaginya. Pada akhirnya, kekuasaan terhebat bukanlah saat kita berhasil menundukkan orang lain, melainkan saat kita berhasil menundukkan kecenderungan biologi kita sendiri demi kebaikan bersama.